TOTAL POSTS:
TOTAL PAGEVIEWS:


Site navigation: Home | About | Pasang iklan
Notices

view first unread Rate Thread
#1

Total Pageviews

(No SARA) Menyambut Era Baru di Ranah Nusantara.

Jauh ke abad 13 silam, sebuah ekspedi militer besar dari Mongol menjelajahi selatan China menuju Nusantara ; tujuannya satu, yakni Memberi pelajaran Kerajaan Singosari yg kala itu dikepalai Raja Kertanegara. Sang raja dianggap telah lancang karena menolak permintaan tunduk kepada Kubilai Khan . Boro-boro tunduk, Raja Kertanegara malah memulangkan utusan kiriman Khan dalam keadaan muka "berstempel besi panas" dan sebuah daun telinga yg terpotong. Masih untung pulang hidup-hidup.

Untuk diketahui, Kerajaan Mongol adalah Adidaya Baru dipercaturan politik Internasional abad ke 13 - 14. Mereka menguasa Daratan Cina, Timur Tengah, Sebagian Besar daratan Asia Tenggara, hingga merangsek ke daratan Polandia sekarang . Ini adalah kerajaan Superpower. Nah, Pemimpin negara superpower mana yang tak panas bila diplomatnya dipulangkan dalam keadaan seperti itu? Amarah membuncah hingga Kubilai Khan merasa perlu menampar Kerajaan Kecil Singosari dengan operasi militer. Sepertiga daratan dunia telah dikuasainya, mengapa kerajaan kecil di pulau Jawa ini tidak bisa? Maka merangseklah sekitar 20.000 tentara gabungan dari Cina Selatan, Dai Viet, dan Champa ke Pulau Jawa.






Operasi ini awalnya berjalan mulus dimana tentara Mongol beraliansi dengan faksi lokal yg dipimpin Raden Wijaya yang tidak senang dengan Kerajaan Singosari. Namun setelah Singosari berhasil ditaklukkan, giliran Raden Wijaya yang menikam tentara Mongol dari belakang. Balatentara Mongol-pun kocar kacir keluar dari Pulau Jawa dan pulang ke kampung halaman di daratan Cina-Mongol. Operasi penaklukan Singosari oleh kerajaan yg legendaris ini tinggal kenangan kala itu.



Kemudian dizaman kolonialisme Eropa di Nusantara, sekalipun masih belum berhasil menaklukkan wilayah kepulauan ini, setidaknya ras yang berkelopak mata unik ini berhasil menjadi Kolaborator para kolonialis. Begitupun pasca lahirnya Negara Indonesia, di era Presiden Soeharto, pergerakan etnis China sangat dibatasi hingga pemberian nama pun harus disesuaikan dengan nama Indonesia.





---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tapi itu dulu, angan2 ras dari utara ini untuk kembali menguasai Nusantara tinggal beberapa langkah lagi. Besarnya kekuatan uang dan perekonomian etnis ini di Indonesia merupakan faktor paling positif. Lihat saja dari 20 pengusaha terkaya di Indonesia, hanya segelintir yang benar2 keturunan melayu nusantara – bahkan yang segelintir itupun ada yang begitu bergantung dalam jaringan pengusaha Cina. Pamor merekapun melesat tajam setelah media-media informasi dikuasai. Lihat saja bagaimana baiknya imej beberapa tokoh TiongHoa seperti Ahok, keluarga Salim, keluarga Riadi, dan Harry Tanoe S. Yang teranyar adalah menyisipnya Adik Ahok yg bernama Basuri Cahya Purnama dalam iklan Alang Sari . Proses perkenalan dan pembentukan pamor telah tercipta. Lalu kedatangan imigran China yang bermotif pekerja asing yang konon jumlahnya hingga jutaan orang, dari jumlah yang pendatang China yang datang, belum tentu sebanyak itu pula mereka pulang setelah "pekerjaan" mereka selesai. Fenomena-fenomena yang ane uraikan diatas adalah pertanda nyata bahwa peralihan hegemoni tengah "diserahterimakan".

Tak ada yang perlu diherankan memang.
Dunia erat hubungannya dengan peralihan dominasi dan hegemoni. Jika dulu Indian, Maya, Aztec, dan Inca bertindak sebagai tuan rumah benua Amerika Utara- Selatan, maka sekarang para Migran Eropa yang berbalik menguasai tanah mereka. Jika dulu suku aborigin menguasai benua Australia dan Selandia Baru, maka sekarang migran Eropa pula yang menjadi tuan rumah didaratan tersebut. Mereka pemegang otoritas disana. Bahkan dalam beberapa episode sejarah, Pembantaian Etnis Pribumi mengapung lalu hanyut ditelan waktu. Sejarah biasanya disetir oleh kalangan yg menghegemoni.





Sekali lagi tidak perlu bingung, heran, atau cemas. Karena memang begitulah dinamika peradaban ; selalu silih berganti. Tidak usah berbicara tentang suatu kaum , cukup kaji secara personal saja. Mereka yang siap membangun akan benar-benar membangun, mereka yang tidak well-prepared bersiaplah menduduki strata yang lebih rendah. Takdir memang ditentukan oleh usaha yg bersangkutan juga. Yang penting ; mari saling melengkapi kelebihan dan kekurangan akan membawa kemajuan bersama., Nantikan episode Dinasti Cina modern yang berbasis di Nusantara – Indonesia ini . Bersiap siaplah akan era baru dengan sistem negara, dinamika sosial budaya, dan hukum yang baru.



SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

0 comments:

Daftar isi