TOTAL POSTS:
TOTAL PAGEVIEWS:


Site navigation: Home | About | Pasang iklan
Notices

view first unread Rate Thread
#1

Total Pageviews

Endog Box : Solusi Telur Anti Pecah Karya Anak SMA 22 Bandung

Bandung - Anak negeri tak henti-hentinya berinovasi. Siswa SMAN 22 Bandung menciptakan wadah pelindung telur ayam. Benda berlabel 'Endog Box' ini menjamin telur tetap utuh alias antipecah meski wadah dihempas serta dilempar dari ketinggian. Keren!

Karya tersebut lahir berkat ide kreatif tiga remaja lelaki yaitu Nur Arief Mursyid , Muhammad Ihsan Bashirulhaq dan Afra Mika Aldaka . 'Endog Box' buatan mereka sukses meraih Juara I Desain Kemasan Telur pada lomba tingkat nasional Mechanical Biosystem Fair yang digelar Institut Pertanian Bogor pada 5 September 2015. Tim SMAN 22 Bandung menyingkirkan 15 peserta dari seluruh Indonesia.

"Wadah telur yang sederhana ini berbahan kardus bekas. Kami membuat boks model jinjing yang bisa dibawa kemana-mana atau portable," ucap Afra Mika Aldaka saat ditemui di SMAN 22 Bandung, Jalan Rajamantri, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu .



Afra mengatakan, 'Endog Box' sengaja diracik untuk menampung empat butir telur ayam yang sesuai syarat panitia lomba. Perwakilan SMAN 22 Bandung satu-satunya tim yang menciptakan wadah telur tanpa memakai bahan sponge atau peredam tekanan.

"Juri menilai kami bisa menang karena karya ini ide original, desain kemasan unik dan ketahanan wadah yang menjadikan telur tidak pecah," kata Afra.

Kenapa telur tetap bisa utuh saat dibungkus 'Endog Box'? Muhammad Ihsan Bashirulhaq mengungkapkan bahwa timnya mengaplikasikan ilmu fisika berupa teori distribusi tekanan.

Menurut Ihsan, spesifikasi wadah bagian dalam dilengkapi penahan berbahan dus dengan pola berdiameter berbeda. Sehingga, sambung dia, tekanan saat wadah jatuh ke lantai menjadi merata ke semua permukaan telur.

"Kondisi tersebut membuat telur tidak pecah. Sewaktu lomba, 'Endog Box' ini sengaja dilempar dari ketinggian lima meter. Hasilnya, wujud empat telur tetap utuh. Enggak ada yang hancur telurnya," ujar Ihsan.





Mereka sudah beberapa kali menguji keampuhan 'Endog Box'. "Mau wadahnya dibanting, telur masih kuat," kata Ihsan sembari tersenyum.

Nur Arief Mursyid bangga dan terharu karena inovasi wadah telur tersebut mengharumkan nama baik sekolah dan Kota Bandung. "Meski modalnya kardus bekas, ternyata hasilnya maksimal," ucapnya.

"Poin utama 'Endog Box' berfungsi mengurangi human error ketika telur-telur didistribusikan ke konsumen. Sebab, penyaluran telur kan berpindah-pindah tangan, situasi tersebut rentan jatuh. Nah, wadah yang kami ciptakan ini bisa menjadi solusi," tutur Arief menambahkan.

Ketiga remaja kelas 12 MIA 2 SMAN 22 Bandung ini sempat mengabadikan 'Endog Box' lewat sejumlah foto yang direkam sebelum ikut lomba. Wadah tersebut kini berada di IPB. Ayo, terus berkarya!

sumber

Quote:
"Endog Box" Inovasi Siswa SMAN 22 Juarai MBF

Telur dijatuhkan dari ketinggian 5 meter tidak pecah. Apakah bisa? Jawabannya, bisa. Ini bukan sulap bukan sihir. Tapi inovasi dari anak-anak Kota Bandung. Mereka adalah siswa SMAN 22 Kota Bandung yakni Nuur Arief, Muhammad Ihsan, dan Afra Mika.

Inovasi ketiga siswa kelas XII tersebut adalah membuat "Endog Box". Endog Box tersebut diciptakan mereka untuk mengikuti lomba Mechanical Biosystem Fair yang digelar oleh Institut Teknologi Bogor . Dalam lomba yang digelar pada 5 September lalu, SMAN 22 meraih juara pertama.
"Perlombaannya memang menciptakan kemasan atau desain bungkus telur agar telur itu tidak pecah dari bahan bekas. Diujinya dengan dijatuhkan dari ketinggian 5 meter," ujar Ihsan kepada wartawan saat ditemui di sekolahnya, Jln. Rajamantri Bandung, Senin .

Tahap awal, pihaknya mengirimkan proposal melalui video kepada panitia MBF. Lalu lolos dna berhak mengikuti kompetisi berikutnya. Awalalnya kata Isan, pihaknya menggunakan media kapas, namun telor pecah. Lalu berfikir keras membuat dari bahan yang lain.

"Akhirnya kami temukan teori, bahwa telur itu tidak akan pecah jika ditekan merata tidak dalam satu tempat. Hal ini sesuai dengan teori distribusi masa tentang pembagian daya," jelas Ihsan.
Makanya dalam box itu ia membuat bolongan yang disesuaikan dengan permukaan telur. Terlihatnya sepeti berundak. Dalam satu box terdiri dari 4 bok kecil tempat telur disimpan. "Box kecil tempat telur terdiri dari dua bagian. Bagian atas dan bawah. Kalau dari atas ada bolong kecil dan telurnya bisa terlihat. Keempat box kecil dibungkus dengan kardus lagi. Sepintas mirip bingkisan," kata Ihsan yang diamini oleh Afra.

Menurut Afra, 98 persen Endog Box itu terdiri dari kardus bekas. Mereka melakukan uji coba sekitar 10 kali hingga proses maksimal. Setiap uji coba langsung direvisi hingga hasil yang sempurna.
"Barang simple hanya terbuat dari kardus bekas. Untuk mengikuti Loba saja kita kardusnnya minta dari kantin dan toko swalayan. Persiapan mengikuti lomba hingga uji coba sekitar satu bulan. Kalau membuat Endog Box-nya sekitar 3-4 jam. Caranya hanya dengan memola kardus," kata Arfa.

Dikatakan, lomba MBF tersebut digelar sebagai ajang perlombaan berbasis pertanian. Tujuannya untuk mengembangkan inovasi dalam bidang teknologi pertanian dalam rangka mewujudkan pertanian modern. Temanya adalah kemasan mmebuat tempat menyimpan telur dimana kemasan itu untuk mengantisipasi resiko human eror saat distribusi dari produsen ke konsumen.
"Dalam perlombaan itu ada 35 peserta dari seluruh Indonesia. Namun yang masuk penyisihan hanya 15 tim. Satu tim maksimal 3 orang. Alhamdulilaah kita juara pertama," katanya. Ia menilai, mereka bisa memenangkan perlombaan yang digelar setahun satu kali itu karena bahannya sederhana, unik, dan tidak banyak menggunakan bahan atau media lain. Berbeda dengan lain, ada yang menggunakan busa, spon, hingga parasut.

Sementara itu, Guru Pembimbing ketiga siswa tersebut, Erwin mengaku bangga dengan prestasi anak didiknya. "Kalau olimpiade matematik banyak siswa yang sering mengikutinya. Tapi kalau lomba inovasi seperti ini jarang dilakukan. Dan ternyata menang. Kita sangat bangga," katanya. sumber

SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

0 comments:

Daftar isi