TOTAL POSTS:
TOTAL PAGEVIEWS:


Site navigation: Home | About | Pasang iklan
Notices

view first unread Rate Thread
#1

Total Pageviews

Benarkah Pulau Tengkorak Itu Ada? Pulau Nias?

Mitos Pulau Nias

Kapal "Van Imhoff " berangkat dari pelabuhan
Sibolga pada tanggal 19 Januari 1942, dengan membawa 477 orang Jerman interniran – tahanan yang akan dibawa ke India. Ditengah laut, pesawat Jepang membom kapal ini sehingga tenggelam. Sebagian besar isi tahanan Jeman tewas tenggelam, termasuk diantara Walter Spies, seniman dan pelukis yang hidup di Bali bertahun tahun. Sebagian orang Jerman yang selamat terdampar di Pulau Nias dan ditahan oleh penguasa Belanda di sana. Nias memang sudah menarik orang orang barat untuk datang kesana saat itu.
Rudolf Bonnet, pelukis dan seniman asal Belanda sudah datang tahun 1927 untuk membuat sketsa lukisan penduduk Nias dan patung patung tradisional. Kelak ketika ia pindah ke Bali tahun 1929, ia menjadi sahabat Walter Spies yang asal Jerman itu.
Ketika Belanda menyerah kepada Jepang 9 Maret 1942. Para tahanan Jerman ini mengambil alih kekuasaan Belanda di Nias. Seorang dokter Jerman – bernama Heidts, yang tinggal di Bandung sebelumnya, mengambil alih kekuasaan dan memasang lambang swastika Nazi. Konon perintah memasang lambang swastika datang dari Fischer, seorang Jerman lainnya yang menjadi " perdana menteri " lokal atas kekuasaan Jerman di Nias.

Catatan pedagang Arab tahun 851 Masehi, sebagai mana yang kemudian diterjemahkan, menyebut Nias dengan nama Niyan. Pulau Niyan sebagai bagian dari Kekuasaan kerajaan Barus di Sumatera Utara. Disebut pulau itu banyak memiliki emas dan penduduknya gemar menunjukan tengkorak musuh musuhnya.

Nias merupakan salah satu dari misteri besar Indonesia. Tipe khas budaya megalitik yang muncul di Nias tidak dikenal di daerah lain mana pun di Indonesia, arsitektur rumah raja-raja di kampung-kampung Nias Selatan agaknya unik. Kebiasaan dan tradisi masyarakat Nias tidak terkait dengan kebiasaan dan tradisi yang terdapat di pulau-pulau tetangga, yang mengindikasikan bahwa masyarakat Nias mungkin berasal dari tempat yang jauh itu .
Pertanyaan sekarang adalah: dari mana ? Saat ini, tidak ada seorang pun yang bisa memberikan jawaban.

Pikiran dari Dr.Lea Brown sebagai peneliti bahasa asli Nias terus menggelitik imajinasi saya saat pesawat Merpati CN 235 mendarat di Bandara Binaka, Gunung Sitoli. Salam ucapan Ya'ahowuu, diteriakan lantang oleh Dale, supir saya yang wajahnya mirip Choky Sihotang. Ia sangat antusias bercerita tentang Nias. Selepas SMA ia sempat merantau ke Padang, namun kembali bekerja menjadi supir milik sebuah travel perjalanan di Gunung Sitoli.
Banua Niha memang memiliki tradisi panjang berabad abad silam. Batu batu megalitik adalah pintu masuk sekaligus simpul untuk memahami budaya Nias. Orang Nias mengukuhkan eksistensinya melalui batu karena dianggap sebagai simbol kekuatan dan keabadian.

Rumah tradisional Nias juga memiliki konstruksi yang kokoh, terutama penyusunan pondasi kayu bulat yang silang menyilang tanpa menggunakan paku. Konstruksi ini yang membuat tak satupun rumah tradisional Nias rubuh karena gempa dan tsunami tahun 2004.
Bentuk rumah tradisional Nias bagian utara berbeda dengan selatan, terutama bentuk atapnya. Di Nias bagian utara bentuk atapnya mengerucut ke atas menyerupai caping. Sementara di bagian selatan memiliki bubungan yang memanjang. Kedua sub etnik ini juga memiliki berbagai perbedaan dalam hal karakter. Masyarakat Nias bagian utara lebih terdidik dan memiliki kesadaran pariwisata. Mungkin karena akses ke dunia luar, pelabuhan, bandara serta infrastruktur yang lebih baik.
Sedang Nias bagian selatan terutama masyarakat di desa desa tradisionalnya masih tertutup.

http://googleweblight.com/?lite_url=http://blog.imanbrotoseno.com/?p%3D1261&ei=tBQ3o7FM&lc=id-ID&s=1&ts=1433323181&sig=AG8Ucuk6pr_SqkrrAmTPbPTBWzdBNZzGrw


SHARE THIS POST:
FB Share Twitter Share

0 comments:

Daftar isi